Fishie Donghae

Sabtu, 25 September 2010

Opini : Edensor (buku ketiga Laskar Pelangi)




Menurut saya, Andrea Hirata adalah salah satu penulis novel terbaik di negeri ini. Semua novel yang ia tulis selalu best seller. Tak terkecuali, Edensor.

Edensor adalah tetralogi ketiga dari Novel Laskar Pelangi.

Menurut pendapat saya, dalam novel Edensor, Andrea berhasil menyusun kronologi  cerita secara apik, menggambarkan setiap detail cerita dengan urut dan ia berhasil memberikan kesegaran-kesegaran baru dalam setiap kalimat. Ia menggunakan gaya bahasa yang sangat berbeda dari novelis Indonesia pada umumnya.

Akan tetapi, gaya bahasa yang berbeda itulah yang sedikit sulit dipahami oleh beberapa kalangan, contohnya para pelajar. Ada beberapa kata, yang tidak saya pahami. Seperti dalam kalimat “dalam buaian halimun”, “kompensasi privilese”, “ia pongah dengan kepala mendongak” dan masih banyak lagi.

Menurut saya, seharusnya Andrea memberikan penjabaran yang lebih jelas terhadap beberapa kata yang kurang umum di telinga para pembaca Indonesia.

Dalam novel Edensor ini, Andrea memberikan suatu amanat yang menurut saya sangat baik, yaitu “beranilah bermimpi”. Ada sebuah kalimat yang yang saya sukai. Kalimat tersebut diucapkan oleh Arai yang isinya “Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita”. Dalam kalimat sesederhana itu, saya menangkap satu kesimpulan. Bahwa saya, kalian dan semuanya janganlah takut bermimpi, karena tuhan akan mengabulkan mimpi-mimpi kita asalkan kita mau berusaha mengejar mimpi tersebut, seperti yang dilakukan oleh Ikal dan Arai. Dengan hanya bermodal ‘keberanian’ mereka menyelesaikan satu persatu masalah. Dan mereka tidak pernah mundur. Saat mereka terjatuh, mereka kembali bangun dan terus melaju menggapai mimpi. Mimpi yang mengantar mereka menjadi orang-orang yang hebat.

hika-chan

1 komentar:

  1. tolonng ka kodong apa pendapat menurut noveledensor mozaik 35 sampai 39

    BalasHapus